ANTARA BUDI PEKERTI DAN MISI KENABIAN

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ"

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia". (HR. Ahmad)

Hadits di atas mengajarkan pada kita bahwa nilai-nilai estetis dan keluhuran juga merupakan bagian penting dari misi kenabian. Tak berlebihan bila beliau shallahu alaihi wasalam memberi janji bahwa "orang yang paling dekat kedudukannya denganku disurga nanti adalah yang paling baik akhlaknya."

Itulah mengapa para ulama salaf dulu memulai pelajaran hidup mereka dari aspek Akhlak.

Logikanya, bila fiqih memberi batasan legalitas, maka akhlak dan moralitas memberi nilai tambah yang tidak sedikit pada keindahan perilaku seorang muslim.

Hadits diatasjuga memberi penegasan lain bahwa Islam bukan hanya sekedar batasan wajib, legal atau haram saja. Tapi disana ada pesona sunnah yang mempercantik dan membuat ajaran mulia ini lebih berwarna.

Bila hari ini barat berkoar-koar dalam mempropagandakan HAK ASASI MANUSIA dengan segala definisinya, maka islam pada 14 abad silam telah lebih dulu mendeklarasikannya sebagai aturan hidup, tentunya dengan makna yang hanif.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda :
" Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing (pada hal-hal yang negatif), saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi sehingga menipu pembeli agar membayar lebih tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan. Jangan pula sebagian kalian menjual di atas penawaran orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang di perintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiayanya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini, takwa itu ada disini kata Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. Cukuplah tanda keburukan seseorang apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lainnya adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya (untuk di rusak dan ditumpahkan). Jauhilah prasangka buruk karna sesungguhnya prasangka buruk adalah sedusta-dustanya pembicaraan. Dan sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu." (HR.Bukhari, Muslim)

Lihatlah.. Jangankan menyakiti dalam bentuk fisik, ajaran islam yang paripurna ini bahkan telah mengajari ummatnya untuk tidak menjadi penyebab hidup orang lain menjadi pahit dan getir karena ulah lisannya.

Keparipurnaannya bahkan telah merubah selaksa senyum yang tadinya biasa menjadi amalan yang istimewa dan bernilain sedekah, Rasulullah bersabda: "Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah", "Janganlah engkau meremehkan perbuatan yang baik, walaupun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri".

Semua itu adalah aturan hidup yang bukan sekedar konsistensi semata, tapi jugi sebentuk seni yang memperindah kehidupan dalam merajut kebersamaan sebagai makhluk Allah dengan pengharapan penuh akan pahala disisi-Nya.

Memang, terkadang sulit mewujudkan semua itu, sebab diujung perjuangan kita untuk merealisasikannya ada ujian yang paling besar, yaitu: DIRI KITA SENDIRI.

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Postingan terkait: