SEMAKIN TAHU SEMAKIN MERASA BODOH

Memang benar, semakin kita belajar semakin kita mengerti bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Itulah sebabnya mengapa para ulama senior semakin hati-hati dan banyak berkata la adri (saya tidak tahu) diusia senjanya. Contoh yang paling dekat adalah Syaikhuna Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr -hafidzahullah- tak terhitung berapa banyak beliau mengatakan la adri.

Bahkan di antara ulama senior itu ada yang tidak mau menjawab persoalan dengan ijtihadnya, apalagi rela bila orang lain beragama dengan hasil ijtihadnya tersebut. Padahal mengamalkan hasil ijtihad seorang alim bukan sesuatu yang terlarang selama ijtihadnya sesuai dengan kaidah-kaidah syar'ie.

Dosen saya pernah bilang, "Di jagad ilmu siapa yang tidak mengenal syaikh Muhammad Al-Amin As-Syinqity..? Siapa yang tidak mengenal keilmuan beliau...? Namun di akhir hayatnya beliau memilih untuk mencukupkan diri dengan menjawab permasaalahan yang jawabannya secara tekstual termaktub dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Bila harus menjawab dalam persoalan ijtihadiyah dia akan berkata, "Abu Hanifah berkata, Malik berkata, Syafi'ie berkata, Ahmad berkata, adapun aku tidak mengatakan apa-apa. Kata-kata itu tentunya lahir dari sifat wara beliau setelah rihlah yang panjang dalam menuntut ilmu''.

Sikap beliau -rahimhullah- mengingatkan saya pada Tabiin yang mulia Atha Ibnu Abi Rabah -rahimahullah-. Ibnu Asaakir meriwayatkan dalam taarikh Dimayq, bahwa suatu saat beliau -rahimahullah- pernah ditanya tentang suatu masaalah. Maka beliau menjawab:

"Aku tidak tahu, penanya tadi berkata: Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masaalah ini..?

Atho menjawab:

إني أستحي من اللَّه أن يدان فِي الأرض برأيي

"Aku malu pada Allah, jika orang-orang dimuka bumi ini beragama dengan pendapatku"

Sudah selayaknya seorang ustadz atau penuntut ilmu yang menjadi tempat bertanya masyarakat umum selalu melihat jauh ke arah kampung akhirat yang menjadi tujuan. Sangat perlu banginya untuk bertanya kearah mana fatwa-fatwa yang diucapkannya itu kelak akan membawanya.? Setidaknya pertanyaan ini akan membuatnya lebih hati-hati serta tidak bermudah-mudah dalam mengomentari masaalah yang tidak diketahui duduk persoalanya.

Status ini bukan sebagai ajakan untuk bersikap jumud, taqlid buta apalagi menutup pintu ijtihad, sama sekali tidak. Status ini adalah nasehat untuk saya pribadi supaya lebih tau diri, tau kapan harus diam dan kapan harus bicara, tau mana tugas saya sebagai thulaib ilm dan mana tugas ulama kibar.

Karena tidak semua masaalah harus dikomentari.

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Postingan terkait: