Apa Boleh Buat

nasehat, potong jari
Gambar dari google (hanya ilustrasi)





















Di saat anda merasa lapar, mungkinkah anda melakukan seperti yang pada gambar dibawah (admin: di atas)? Memotong jari jemari sendiri untuk dijadikan sup, agar makannya lebih lezat dan sedap.

Saya yakin mustahil anda melakukan hal itu, walaupun anda dibayar dengan mahal.

Namun demikian, betapa banyak orang yang rela mengeluarkan biaya mahal agar jarinya atau organ tubuh lainnya dipotong, yaitu ketika menyadari organ tersebut dijangkiti kangker ganas, misalnya.

Saya yakin anda sepakat dengan saya bahwa orang yang memasak potongan jari jemarinya sendiri, adalah orang yang tidak sehat akalnya, walaupun ia mendapatkan imbalan besar atas perbuatannya itu dan di saat yang sama ia merasakan masakan yang super lezat.

Sedangkan orang kedua yang membayar dengan biaya besar agar dokter memotong organnya yang terjangkiti kangker ganas adalah orang bijak, karena rela mengorbankan hartanya demi menyelamatkan nyawanya.

Pada kasus semacam ini, semua orang menyadari bahwa orang ini pastilah menanggung kerugian besar, kehilangan organ tubuhnya, dan masih harus membayar mahal. Namun tindakan itu dapat diterima karena ia berhasil menghindarkan dirinya dari petaka yang lebih besar.

Sebagaimana anda juga sepakat bahwa tidak bijak bila dalam kondisi semacam ini, ia terus berkata: sejatinya atau seharusnya atau inginnya saya hidup sehat, tidak usah mengeluarkan biaya.

Bila orang yang telah menderita kanker ganas terus hanyut dalam ucapan andai, inginnya, cita cita, atau harapan saya dapat hidup sehat, dan tidak segera mengambil langkah penyelamatan dengan menanggung resiko yang lebih ringan, niscaya ia bisa celaka bahkan binasa.

Semoga ilustrasi sederhana ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dengan riak dan gelombang.

Oleh: Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

Postingan terkait: