Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani III

Diantara hal yang diutarakan oleh lelaki nasrani tersebut kepada saya ialah perihal pilihannya beragama nasrani. Menurut penuturannya, ia telah berpindah pindah dari satu agama ke agama lain, dari hindu ke islam,lalu ke nasrani, dan katanya ia hanya mendapatkan hatinya di agama nasrani.

Ngakunya, Selama mencoba beragama hindu dan islam ia sama tidak merasakan adanya ketenangan dalam dirinya alias jiwanya tetap merasa hampa,mhingga ia merasa mantap beragama nasrani.

Saya mendengarkan penuturannya hingga ia selesai bercerita dengan sesekali menimpalinya dengan berkata: oooo, demikian ya pak?

Setelah ia selesai menceritakan pengalamannya berpindah pindah agama, giliran saya berkomentar. Hal pertama yang saya ucapkan kepadanya adalah: pak, untuk urusan agama dan keyakinan bukan sekedar mantap, atau ketenangan, namun lebih pada urusan HIDAYAH alias PETUNJUK.

Karena itu sebaliknya juga banyak, betapa banyak orang nasrani yang berpindah agama ke islam dan mengaku bahwa selama pengalamannya menganut nasrani ia sama sekali tidak merasakan kedamaian dan selalu dalam kegersangan, hingga akhirnya Allah membuka pintu hatinya untuk memeluk Islam, dan akhirnya ia merasakan kedamaian.

Jadi kalau selama "mencoba" beragama islam bapak merasa tetap hampa, maka itu sejatinya Allah belum memberi hidayah atau belum membuka pintu hati bapak.

Karena bapak pasti menyadari bahwa agama kita sama sama disebut dengan agama samawi, alias berasalkan dari langit, alias bersumber dari Allah. Dengan demikian yang kuasa memberi hidayah atau membuka pintu hati adalah Allah. Berbeda dengan agama lainnya, yang berasalkan dari logika dan pengalaman pendirinya.

Diantara buktinya, dalam agama saya Islam, dan saya yakin dalam agama bapak juga sama, kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk alias hidayah kepada Allah. Andai urusan agama bergantung pada kenyamanan atau ketenangan semata, maka apalah artinya kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk kepada Allah?

Ditambah lagi, tidak merasakan ketenangan banyak faktornya, diantaranya karena bapak belum memahami seutuhnya agama yang bapak anut dengan sebenarnya. Betapa banyak orang yang beragama hanya mengenal lahirnya alias kulitnya namun belum memahaminya secara utuh, apalagi mengamalkannya secara sempurna.

Karena itu dalam Al Qur'an, kitab suci kami, ada perintah agar kita masuk alias menjalankan agama Islam secara menyeluruh.

(ادخلوا في السلم كافة)

Masuklah engkau semua ke dalam islam secara menyeluruh.

Agama saya, yaitu Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah, namun seluruh aspek kehidupan kita juga diatur. Bahkan ayat terpanjang dalam kitab suci kami bukan yang mengatur urusan ibadah praktis, namun ayat yang berkaitan dengan aturan hutang piutang dan bagaimana tata cara membuat alat bukti.

Selanjutnya untuk menyisipkan pesan pada diri bapak itu, saya bertanya kepada bapak itu, dengan berkata: oh iya pak, bagaimana dengan agama nasrani, adakah aturan tentang perniagaan, rumah tangga, hukum pidana atau perdata?

Saya bertanya demikian, karena saya tahu bahwa dalam agama nasrani tidak ada aturan tentang aspek aspek kehidupan di atas.

Nampaknya bapak itu tidak menduga akan saya tanya demikian, sehingga ia agak terkejut' sehingga kikuk menjawab pertanyaan saya. Ia hanya menjawab: oo ya tentu saja ada. Padahal nyatanya -sebatas yang saya pelajari- tidak ada satu ayatpun dalam kitab Injil atau Taurat (perjanjian baru atau lama) yang mengatur urusan urusan tersebut.

Oleh: Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani III"

Catat Ulasan