Gender dan iPhone

Ada yang menarik di perkuliahan saya 3 sesi terakhir ini...ya tidak lain karena topik yang saya angkat adalah kesetaraan gender dan problematika pendidikan. Mahasiswa saya bermacam-macam...tidak hanya orang Jepang. Ada juga mahasiswa muslimah di situ.

Kuliah awal saya paparkan tentang konsep-konsep dasar dalam memahami kesetaraan gender...mulai dari perspektif struktural fungsionalis, perspektif konflik, dan juga perspektif interaksi simbolik...saya pun jelaskan tentang bagaimana sex segregation di Amerika dan beberapa negara yang menjadi pioner kesetaraan gender dalam masalah pendidikan dan pekerjaan dan bagaimana pentingnya keterbukaan bagi perempuan di sana...

akhirnya ada mahasiswa Pakistan yang angkat tangan dan bertanya:

"Sensei...menurut sensei sendiri...pribadi...yang begini ini apakah bener? Kita semua diharuskan mensetarakan diri dengan laki-laki?"

Mahasiswa...tepatnya mahasiswi Pakistan ini memang meski tampak biasa tapi dia orang yang peduli pada agama. Tapi kali ini dia terjebak pada alur saya...
...
"Kamu punya smartphone? Mereknya apa?"
"iPhone...."
(kemudian saya tunjuk mahasiswa lain)
"Apakah ada yang punya selain iPhone di sini?"
"Ada sensei...saya pakai Samsung..."

"Oke...sekarang kamu yang pegang iPhone...kamu senang dengan smartphone kamu?"
"Iya..."
"kenapa?"
"Karena saya menggunakan produk Apple yang lain, spt Macbook dsbnya jadi semuanya bisa sinkron dan itu memudahkan saya..."
"Oke...berarti kamu nyaman dengan iPhone itu ya? Nah maukah kamu sehari saja tukar iPhonemu dengan Samsung miliknya?"
"Tidak..."
"Mengapa?"
"Karena kerjaan saya bisa terganggu bila saya tidak mensinkronkan semua gadget saya...."

"Begitulah.....", saya bilang, "Ketika sebagian orang yang begitu sporadis meneriakkan kesetaraan gender supaya diterapkan di seluruh belahan dunia, apakah mereka pernah terbersit: Apakah masyarakat yang saya hadapi sekarang memang BENAR-BENAR membutuhkan kesetaraan gender? Ataukah mereka sebenarnya sudah nyaman dan tidak membutuhkan perubahan yang signifikasn dalam struktur masyarakatnya?

Acapkali bagi aktifis-aktifis organisasi dunia hanya melihat dari angka dan data...tanpa mengindahkan kondisi riil masyarakat tersebut apakah mereka benar-benar membutuhkan hal tersebut atau tidak. Malah sebaliknya, ketika konsep itu kita paksakan masuk ke dalam masyarakat tersebut, ekosistem masyarakat itu malah akan kehilangan keseimbangan dan mulai rusak dan rontok...sebagaimana bila saya paksakan kamu untuk menggunakan smartphone Samsung sedang kamu lebih bisa bekerja dengan iPhone bukan?"

Akhirnya mahasiswi Pakistan itu kembali berkata: "Betul sensei...nah ini sebenarnya sudah diajarkan Islam bukan? Bahwa masing-masing laki-laki dan wanita memiliki peranannya sendiri..."

Saya jawab, "Bila kamu hanya mengklaim bahwa agama telah mengajarkan ini, maka kamu bisa ditertawakan....adakalanya kamu harus ubah cara berbicara dengan melogikakannya sehingga orang bisa menerima logika kamu bukan?"

...mahasiswa yang di samping saya, yang ketika saya sebutkan Amerika akhir-akhir ini melegalkan pernikahan LGBT, dia angkat dua tangan menunjukkan kegembiraan dan kesenangan, dia pun manggut-manggut mendengar penjelasan saya dan di akhir kuliah dia menghampiri dan bertanya:

"Apa yang sensei jelaskan betul dan memang seharusnya begitu....kadang kita tidak melihat apakah konsep itu dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak tapi memposisikan konsep itu seperti agama itu sendiri...terima kasih pencerahannya hari ini...."

(2015.07.10)

Oleh: Andy Bangkit, Ph.D.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Gender dan iPhone"

Catat Ulasan