Skripsi Tidak Dibutuhkan

Ya mungkin itu yang diucapkan oleh sebagian mahasiswa S1 atau lulusannya yang mengeluhkan beban skripsi ketika hendak lulus dari program S1

Karakter pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan tingginya berbeda dan sangat mengutamakan spesifikasi ilmu. Lihat saja, bukan hanya dalam memilih program studi yang akan dijalaninya di kuliahan (yang acapkali malah mengkotak-kotakkan ilmu itu sendiri dan mempersempit pandangan mahasiswa) tetapi sejak SMA pun masyarakat Indonesia sudah dipaksa untuk memilih jurusan yang akan diminatinya (baca: digelutinya, karena tidak jarang mereka terpaksa menggeluti jurusan yang sebenarnya tidak mereka minati).

Ada sebuah buku menarik dari David T Conley, profesor bidang Educational Policy di University of Oregon yang berjudul: College and Career Ready-Helping All Students Succeed Beyond High School (Jossey Bass: 2010). Dalam buku tersebut, Conley mengulas karakteristik yang dibutuhkan oleh seorang lulusan undergrad ketika hendak memasuki dunia kerja, apapun itu kerjanya. Karakteristik ini disebutnya sebagai Key Cognitive Strategies.

Dia berkata:
The success of a well-prepared college student is built on a foundation of key cognitive strategies that enable students to learn, understand, retain, use, and apply content from a range of disciplines.

Bisa dikatakan bahwa key cognitive ini sangat menentukan masa depan lulusan nantinya dan menjadi karakter yang hanya dimiliki oleh seseorang yang melewati jenjang pendidikan tinggi di Universitas. Apakah key cognitive strategies itu:

1. Problem formulation, di mana mahasiswa mampu mengembangkan dan menerapkan berbagai strategi untuk memformulasikan masalah-masalah rutin dan non rutin yang ditemui

2. Research, di mana mahasiswa mampu mengidentifikasikan sumber yang tepat untuk menjawab permasalahan dan memecahkannya

3. Interpretation, di mana mahasiswa mampu menganalisa konflik dan clash dalam sebuah isu sehingga dapat memetakan masalah dengan baik

4. Communication, di mana mahasiswa dapat membangun sebuah argumen disertai dengan bukti-bukti yang logis

5. Precision and Accuracy, di mana mahasiswa mampu mencari precision apa yang tepat untuk suatu tugas dalam sebuah bidang dan mampu untuk melakukan pengamatan dan analisa yang tepat

dari 5 key cognitive strategies ini....menurut saya, dapat diukur dari sebuah skripsi yang menjadi akumulasi studi seorang mahasiswa selama 4 tahun (lebih atau kurang)...itulah fungsi skripsi. Tanpa skripsi, bagaimana kita akan mengukur ini semua?

Oleh: Andy Bangkit Setiawan (Associate Professor di Bidang Sejarah Pemikiran dan Budaya, Nagoya University, Jepang)

(2015.5.23)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Skripsi Tidak Dibutuhkan"

Catat Ulasan